Cinta tak Terungkap
“Andi, kalo boleh jujur, dari dulu aku suka dan sayang sama kamu. Aku juga sangat berharap dulu kau ‘memilihku’, walau ku tau semua ini tidak akan merubah keadaan .”
“Rani, maafkan aku, aku sendiri sebenarnya sudah menaruh hati padamu sejak pertama kali aku melihatmu tapi dulu aku tidak punya keberanian sama sekali untuk mengungkapkan perasaan itu.”
“Sudahlah Di, yang terpenting sekarang aku merasa lebih lega dengan bilang ini semua ke kamu, sekarang aku telah menjadi milik orang lain, dan mungkin dalam waktu dekat ini aku akan segera menikah, lagipula kau pun sudah punya tambatan hati.”
Tersentak aku kaget mendengarnya dan entah apa yang harus aku katakan. Aku coba untuk menyembunyikan rasa kagetku ini dengan berusaha tersenyum.
“Ran, aku sayang kamu, walaupun aku tau kata-kata ini tidak bisa mengembalikan kita ke waktu yang dulu, semoga ini menjadi hal yang indah buat kita.”
-----o0o-----
Hampir dua tahun lamanya aku duduk di bangku kuliah dan sudah selama itu pula aku menjalin hubungan dengan Tania, mantan adik kelasku. Kisah cinta kami bisa dibilang menarik dan mungkin cukup aneh juga. Berawal dari surat cinta yang datang kepadaku, surat cinta pertamaku, waktu aku masih kelas tiga SMA dulu. Surat cinta dari Tania, aku kaget, ternyata Tania menyukaiku. Itu hal yang tidak kusangka. Sama sekali.
Aku, Andi, yang kata orang aku ini kutu buku, kemana-mana setiap ada kesempatan baca buku, bahkan temen-temen perempuanku bilang aku orangnya sombong, bahkan sampai memvonisku kalo aku orangnya tidak punya cinta. Jauh dari tuduhan itu, aku sendiri punya rasa pada perempuan yang aku suka. Sebetulnya aku cukup populer dan keren di sekolah, hanya saja aku terfokus untuk mengejar target belajarku.
“Di, udah donk lu, baca buku mulu, ‘g bosen apa?! Bisa-bisa rambut lu rontok semua tuh”
“Ah, lu Dod, ‘g tau orang lagi asik”
Dodi temenku orang paling usil, walaupun begitu dia adalah temen baekku dari kecil.
“Eh, apaan nih? wWah…surat cinta nieh…mmh..mana harum lagi..” surat itu dia ambil dari kantong baju seragamku.
“Eh..sini balikin, cepet !”
“iYa gue balikin..tapi ntar kalo udah gue baca, Hhaha..”
Dodi pergi dengan membawa surat itu.
“Sial !” umpatku masuk kelas.
-----o0o-----
Bel sekolah berbunyi nyaring menandakan sekolah hari ini selesai, murid-murid segera membereskan semua perlengkapan belajarnya dan bergegas keluar. Kecuali aku.
“Dod, balikin surat itu !”
“Iya,iya..nih” sambil tersenyum khasnya. “Eh, sejak kapan tuh surat ada di tangan lu, surat itu dari Tania yang anak kelas 2-4 itu kan?! Keren lu, dia lumayan Ok tau, banyak cowok yang uber-uber dia”
“Berisik lu, surat itu baru tadi pagi aku terima, lu mau bantu gue ga?”
Aku dan Dodi emang deket, sampai-sampai kita saling curhat tiap ada masalah, masalah pribadipun. Maklumlah sobat dari kecil, keluarganya pun udah dianggap keluarga sendiri oleh keluargaku.
“Bantu apa nih? Ada imbalannya g?”
“Gini Dod, lu tau sendiri kan gue suka Rani, dulu gue pernah cerita sama lu.”
“Ya, terus?”
“Gue bingung mau milih yang mana Dod, gue pilih Rani atau Tania?”
“Hahahaha…itu toh masalahnya “ tawa Dodi tak henti-hentinya.
“Napa lu ketawa?! Ya jelas bingung lah..gini-gini juga gue suka keduanya, Cuma masalahnya gue belum pernah ungkapin perasaan gue ke Rani, baru PDKT doank.” Tawa Dodi mulia reda dan pasang wajah agak serius.
“Ya udah gini aja, lu ikutin apa yang menurut lu baek Di, itukan masalah perasaan lu, gue juga ga tau lu lebuh suka yang mana tapi yang jelas ga bakalan lu embat keduanya kan?!”
-----o0o-----
Sudah satu tahun ini aku jalani hubungan dengan Tania, kini kita sama-sama sudah kuliah tapi beda kampus. Aku tetep di daerah Jakarta sedangkan Tania di Bandung. Selama itu kita sudah mengalami putus beberapa kali tapi setelah itu kita sambung lagi. Hal yang sepele saja menjadi batu sandungan besar. Sikapku kini sudah berubah dengan yang dulu. Lebih berani.
“K Andi, kapan maen ke kosan Tania, Tania juga kan pengen didatengin pacarnya ke kosan kaya temen-temen Tania yang lain.” Manja Tania.
“Ya sayang..kalo ada waktu juga aku pasti dateng kok, sekarang aku lagi sibuk-sibuknya kuliah”
“Ah, itu mulu yang terus diomongin.!”
“Kamu kok gitu terus sih Tan_?!”
“Tau..!” telpon itu ditutup dengan cepat.
“Hhh_, kesel banget, napa dulu aku ga jadiin Rani aja jadi pacar, aku pengecut sih dulu orangnya, aku merasa yakin dengan keputusanku karena sudah tau perasaan Tania awalnya, jadi aku berpikir lebih mudah untuk jadi pacarnya” Umpatku kesal.
-----o0o-----
“Aku minta putus!” sentak Tania, “Aku bosen Kak dengan semua kebohongan Kakak.
“Kebohongan apa,?! Kapan aku bohong ke kamu,?! Kamu jangan seenaknya aja kalo ngomong tuh.!” Kesalku.
“Mana buktinya? Sampe sekarang Kakak ga dateng kesini juga.”
“Ya udah kita putus aja, dan lebih baek gitu, aku sudah capek dengan sikapmu yang egois!! Oh ya, jangan sampe kejadian kita balikan lagi!!” Segera ku tutup telpon itu dan setelah kejadian itu aku dan dia ga pernah lagi saling menghubungi.
Berkali-kali aku menyesal, tak jarang aku termenung kala ku mengingat masa-masa sewaktu di SMA. Kini aku tak serajin dulu, semenjak jadian dengan Tania, kerjaanku hanya membuat Tania senang dan meladeni dia waktu dia kesal, marah.
Aku benar-benar menyesal dengan keputusanku dulu. Kini aku kehilangan semuanya. Rani maafkan aku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar